Sekapur Sirih Tentang Pemimpin dan Miras

  • Whatsapp

(Kajian Teologis dan Hukum)

Oleh

Dr. Yanto M.P Ekon, SH.,M.Si

 

Kata Orang Bijak “bila ingin menjadi pemimpin menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator” menulis seperti wartawan yg dimaksudkan, memiliki kemampian untuk menyusuri Visi, Misi dan program kerja, sedangkan berbicaralah seperti orator artinya mampu menyampaikan Visi dan misi tersebut kepada orang-orang yang dipimpin, atasan atau mitra yang berwenang melakukan evaluasi, serta dapat mewujudkan visi, misi dan program kerja itu dengam baik demi kesejahteraan dan kedamaian dari orang-orang yg dipimpinnya.

Namun faktanya, banyak calon Pemimpin atau bahkan pemimpin yang tidak bisa menyusun dan/atau menyampaikan visi,misi dan program kerja, melainkan berusaha mempengaruhi orang-orang yang ibgin dipimpinnya dengan minuman keras yang berlebihan yang menimbulka Kemabukan. Padahal Raja Salomo dalam Amsal 20:1 berkata “anggur adalah pencemooh, minumqn keras adalah peribut, tidaklah bijak orang terhuyung-huyung karenanya”. Raja Salomo menekankan 2 (dua) hal yang berkaitan dengan minuma keras yang berlebihan dan menimbulkan mabuk.

Pertama; akibat negatif dari Konsumsi minuma keras yang berlebihan adalah keributan yang merugikan dan Kedua; ciri khas dari orang yang suka mabuk minuman keras atau terhuyung-huyung seperti orang gila atau tidak waras adalah TIDAK BIJAK atau BODOH. Tuham tidak ingin sesama manusia ribut dan menjadi bodoh, tetapi yg diinginkan adalah manusia hidup damai dan menjadi bijak, karena itu Firman Tuhan melarang manusia mabuk anggur atau minum keras lainnya, seperti tertulis dalam efesus 5:18 memyatakan “dan janganlah kamu mabup oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”

Pemerintah sebagai wakil Tuhan do dunia juga menginginkan rakyat ya g dipimpinnya hidup dalam kedamaian dan Bijak, bukan hidup dalam perselisihan atai keributan, dan menjadi orang tidak bijal atau bodoh. Oleh karena itu Pemerintah Pusat telah merancang Undang -Undang Republik Indonesia tentang larangan minum beralkohol yang terdiri dari VII Bab dan 24 pasal. Pasal 5 mengatur tentang larangan memproduksi minuman beralkohol golongan A, golongan B, dan golongan C, minuman tradisional dan minuman beralkohol campuran atau racikan, sedangkan pasal 6 mengatut tentang larangan memasukan, mengedarkan, menyimpan, dan atau menjual minuman beralkohol Golongan A, Golongan B, Golongam C, dan minuman beralkohol tradisional atau minuman beralkohol campuran atau racikan di wilayah NKRI, pasal 7 mengatur tentang larangan mengonsumsi minuman beralkohol Golongan A, Golongan B, Golongan C, dan minuman beralkohol tradisional atau minuman beralkohol campuran atau racik

Selanjutnya pasal 8 menetapkan minuman beralkohol hanya dapat diproduksi, diedarkan atau disimpan dan dikonsumsi hanya untuk kepentingan terbatas yang meliputi; a). Kepentingan adat, b). Ritual keagamaan, c) wisatawan, d). Farmasi dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan. Larangan-larangan ini telah disertai sanksi pidana bagi pihak yang melakukan produksi, menyimpan memgedarkan dan mengkonsumsi bukan untuk kepentingan terbatas sebagaimana dimaksud pada pasal 8. Selain rancangan Undang-Undang tentang larangan minuman beralkohol, diberbagai pemeintah Daerah Kabupaten/Kota telah menerbitkan Peraturan Daerah Tentang Pengendalian Pengawasan Minuman Beralkohol, termasuk Kabupaten Rote Ndao yang saat ini Rancangan Peraturan Daerah tentang Minuman Beralkohol masih dalam pembahasan antara Pemerintah Daerah dan DPRD.

Berdasarkan Uraian diatas, maka diahir tulisan ini disarankan agar, 1. Rancangan Undang-undang Tentang Minuman Beralkohol segera disahkan agar dapat dijadikan pedoman bagi daerah untuk menetapkan Peraturan Daerah. 2. Cari, Proses dan pilih pemimpin yang hidupnya tidak bergantung pada minuman keras atau minuman beralkohol, agar mampu menyusun, menyampaikan dan melaksanakan Visi, Misi dan program kerja yang ditetapkan.