Pihak RSUD Ba’a Diduga “Meng-kovid-kan” Pasien

  • Whatsapp

Rote Ndao, BERITA NTT.com –  Rumah Sakit sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien Covid -19 tentu menjadi harapan masyarakat agar dapat secara jujur mengungkap data penyebaran covid-19 yang pernah ditangani dimasing-masing Daerah. Hal itu juga yang diharapkan oleh masyarakat terhadap pihak Rumah Sakit Umum Daerah Ba’a Kabupaten Rote Ndao, masyarakat menaruh harapan penuh kepada para petugas medis yang bekerja di tempat itu untuk secara jujur menyampaikan kepada masyarakat termasuk keluarga pasien yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit tersebut tentang adanya Pasien Covid-19 atapun sebaliknya.

Namum sayang, apa yg didapatkan oleh masyarakat tidak berbanding lurus dengan harapan yang sesungguhnya, informasi yang diterima oleh keluarga Pasien akan penanganan pasien Covid -19 di Rumas sakit tersebut dirasa kurang memuaskan.

Hal itu seperti yang dialami oleh Keluarga Almarhumah Eviliana Diana Jezua warga Desa Lekunik Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao yang belum lama ini dikuburkan menggunakan Protokol Kesehatan.

Kakak Almarhumah, Petrus Boik yang menemui wartawan media ini Senin (14/12/2020)  mengatakan, pihak keluarga menduga Adiknya Almh. Eviliana Diana Jezua sengaja di-covid-kan oleh pihak RSUD Baa.

Menurutnya, sebelum dinyatakan menderita Covid-19 oleh pihak rumah sakit, almarhumah pada hari kamis 02 Desember 2020 dabawa ke UGD oleh keluarga karena kondisinya lemah, setelah dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis diketahui almarhumah menderita pemyakit Gula, sehingga disarankan untuk kembali dan istirahat dirumah

“Saat itu kami minta untuk diinfus namun dokter bilang tidak apa-apa ini hanya gulanya naik jadi biar pulamg istirahat di rumah” kata Petrus.

Keluargapun mengikuti saran dokter dan membawa kembali almarhumah ke rumah miliknya di Nauhadoen Desa Leunik.

Namun pada hari Sabtu sekira pukul 13.00 wita petrus mengaku dipanggil oleh salah satu anak almarhumah untuk kembali membawa mamanya ke Rumah Sakit, sesampainya di Rumah sakit sekira pukul 14.00 wita almarhumah dibawa ke ruangan rontgen intuk melakukan Rongen, hasil rontgen menunjukan almarhumah menderita sakit lambung akut, jantung dan paru-paru, setelah itu almarhumah dibawa kembali ke UGD untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Setelah itu, Sekira pukul 18.00 wita ada sworang dokter UGD yang mendatangi keluarga dan menawarkan agar jika terjadi Kondisi terburuk pada almarhumah maka harus dikuburkan menggunakan Protokol covid-19.

Tidak hanya itu, sekira pukul 00.30 wita, petrus mengaku ada Dokter yang kembali mendatangi dirinya dan menanyakan apakah ia telah mengetahui penyakit yang diderita oleh almarhumah, namun kepada sang dokter petrus mengaku tidak tahu, pada saat itu Dokter tersebut langsung menyampaikan kepada Petrus Boik bahwa secara medis pasien tersebut tidak akan bertahan lama dan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka harus dikuburkan menggunakan Protokol Covid.

“Waktu dokter bilang nanti almarumah kalau terjadi apa-apa (meninggal) maka harus dikuburkan pakai protokol Covid, saya langsung tanya kenapa harus pakai Protokol Covid, apakah sudah ada hasil?  tetapi dijawab bahwa hasil belum ada, saya langsung bilang lalu kenapa harus pakai protokol Covid?” ungkap Petrus Boik,

Masih menurut Petrus, hari minggu sekira pukul 02.30 dini hari barulah petugas Laboratorium RSUD Ba’a datang mengambil sampel Swab almarhumah,

Petrus juga menyayangkan sikap Dokter yang menyampaikan bahwa almarhumah menderita Covid -19 dihadapan pasien, karena informasi tersebut langsung didengar oleh almarhum dan sejak saat itu kondisinya memburuk hingga menghembuskan nafas pada hari minggu siang sekira pukul 11.00 wita.

Anehnya lagi, setelah almarhumah dinyatakan meninggal, keluarga masih dipersilahkan oleh Petugas untuk melayat jenasah terduga covid -19.

Pihak RSUD Ba’a Bantah Covid-kan Pasien

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Ba’a dr. Widyanto P.Adhy, Biomed.Sp,PD membantah informasi yang menyatakan bahwa Pihak Rumah sakit sengaja meng-Covid-kan pasien .

Menurut dr. Adhy, sebelum terdiagnosis terduga pasien covid -19 memang penanganannya tetap seperti pasien biasa namun setelah ditegakan bahwa pasien tersebut terduga covid-19 maka pihaknya melakukan penanganan menggunakan protocol Covid.

“Memang penanganannya berkembang, diagnosisnya berubah , diagnosisnya berkembang, jadi saat hasil diagnosinya menyatakan bahwa pasien tersebut terduga Covid -19 maka penanganan kami lakuka  menggunakan Protokol Covid” ungkap dr. Adhy

Ketika ditanya, soal adanya informasi bahwa pihak Rumah sakit menawarkan ke keluarga agar almarhumah dikuburkan secara protocol Covid-19 meskipun belum ada hasil Rapid Test. dr. Adhy mengatakan pada prinsipnya saat petugas mengatakan bahwa pasiwn tersebut terduga Covid-19 maka pasti hasilnya sudah ada, karena dasar untuk mengatakan itu adalah hasil Rapid Test.

Sementara soal keluarga yang tetap diberikan kesempatan oleh petugas medis untuk melayat almrahumah dr. Adhy memgatakan bahwa dalam batasan tertentu keluarga masih dibolehkan untuk melayat (BNC 01)

Pos terkait