beritantt.com
Menu

PGRI Rote Ndao Kecam Aksi Pengeroyokan Guru Oleh Siswa di Fatuleu

0 26

Rote Ndao, BERITA NTT.com- Pengurus Perhimpunan Guru Rebuplik Indonesia (PGRI) cabang Rote Ndao mengecam aksi pengeroyokan seorang guru yang dilakukan oleh tiga orang siswa SMA Negeri 1 Fatuleu Kabupaten Kupang -NTT.

Kecaman itu disampaikan pengurus PGRI Rote Ndao dalam aksi Mereka yang digelar di Sekretariat PGRI Cabang Rote Ndao di kawasan Nusaklain Samping SMA Negeri 1 Lobalain Selasa, (10/03/2019) siang.

Dalam aksi tersebut, para pengurus dan beberapa guru yang tergabung dalam Wadah PGRI bersama Pengurus OSIS SMA Negeri 1 Lobalain membubuhkan Tandatangan Pada Sepanduk berwarna Putih,

Pantauan media ini selain para pengurus PGRI dan OSIS SMA N 1 Lobalain tampak masyarakat yang lewat di Sekitar Sekretariat tersebut juga membubuhkan tandatangan mengecam aksi pengeroyokan Guru oleh siswa yang terjadi di Beberapa Daerah termasuk yang terakhir di SMA Negeri 1 Fatuleu.

Selain itu PGRI Rote Ndao Juga Menyampaikan Pernyataan Sikap yang mana terdapat 11 tuntutan diantaranya 1) Mendesak pemerintah untuk segera menetapkan UU perlindungan guru dan dosen dan atau peraturan turunan dan atau kebijakan lainnya berdasar pada UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen secara khusus “pasal 39” yang berhubungan dengan perlindungan terhadap guru dari berbagai bentuk intervensi, intimidasi dan kekerasan dalam bentuk apapun dan oleh siapapun jika kita ingin generasi bangsa ini kedepan memiliki kecerdasan, karakter dan mental yang baik serta berakhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang telah diamanatkan dalam UUD 1945.

2). Mendesak Gubernur Nusa Tenggara Timur, DPRD NTT, Bupati Rote Ndao dan DPRD Rote Ndao agar dapat menyusun mekanisme pemberian perlindungan kepada guru sesuai dengan amanat Permendikbud No 10 Tahun 2017 tentang perlindungan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan “pasal 3 point 3”.

3). Meminta semua pihak untuk menghormati, menegakkan dan menjaga harkat dan martabat profesi guru sebagai ujung tombak pemerintah dalam menjawab tujuan pendidikan nasional.

4). Mendesak pemerintah untuk mengeluarkan aturan dan kebijakan terkait batasan-batasan guru dalam melakukan kegiatan mendidik dan melatih sebagai pedoman kepada guru dalam menjalankan tugas agar terhindar dari berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan serta dampak hukum bagi guru.

5). Mendesak PB PGRI RI di Jakarta agar secara serius memberi perhatian terhadap
perlindungan guru dan peningkatan kesejahteraan serta profesionalisme guru.

6). Mengecam keras dan mengutuk tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh 3 orang siswa yang telah ditetapkan tersangka oleh pihak kepolisian kepada salah seorang rekan guru bernama Yelfred E. Malafu, S.Pd di SMA Negeri 1 Fatuleu Kabupaten Kupang yang notabene adalah guru dan orang tua mereka sendiri. Sebagai warga negara kami taat hukum dan menghormati proses hukum dan karena itu kami meminta kepada bapak Kapolres Rote Ndao agar dapat membantu menyampaikan aspirasi kami kepada pihak
Kapolres Kabupaten Kupang agar kasus tersebut diusut tuntas dan diproses secara hukum sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

7). Meminta seluruh komponen masyarakat, pemerhati pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat secara khusus kepada orang tua agar saling bekerjasama dan membantu guru dalam menjalankan tugas profesi secara aman dan nyaman demi tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur.

8). Mengecam dan mengutuk setiap perbuatan apapun dan oleh pihak manapun dengan tujuan intimidasi, kekerasaan dan atau merendahakan harkat dan martabat profesi guru yang dapat mengganggu kenyamanan dan melemahkan semangat guru dalam menjalankan tugas yang diemban oleh negara.

9). Mengajak teman-teman guru di Rote Ndao agar tetap semangat dan tidak takut dalam menjalankan tugas mulia sebagai seorang guru.

10). Menyerukan teman-teman guru se-Rote Ndao untuk membakar lilin pada halaman rumah masing-masing sebagai wujud solidaritas atas apa yang dialami oleh rekan guru seperjuangan secara umum di Indonesia dan secara khusus yang terjadi di SMAN 1 Fatuleu Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ketua PGRI Cabang Rote Ndao Laberd W. Dano yang dikonfirmasi media ini di lokasi kegiatan mengatakan, aksi tersebut mereka lakukan sebagai solidaritas antar sesama guru, dan sebagai wujud keprihatinan PGRI Rote Ndao terhadap carut marutnya sistim pendidikan di Negara ini.

Alberd Menilai Kejadian yang menimpa Rekan Guru di SMA Negeri 1 Fatuleu hanyalah sebagian kecil dari apa yang menimpah para guru di belahan daerah lain di Negara ini, guru seakan tak berdaya tatkala diperhadapkan pada kondisi seperti yang dialami oleh beberapa rekan guru.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris PGRI Rote Ndao Georhe J. Ndun. Menurutnya banyaknya aturan di negara ini justru membuat para guru dilematis dalam mengambil tindakan atas apa yang dilakukan oleh Para siswa,

Aturan yang ada terlalu mudah untuk menjebloskan para guru ke balik jeruji besi, itulah yang membuat Para Guru tidak mau mengambil resiko dalam memberikan pembinaan kepada siswa yang nakal, Hal itu justru berdampak pada buruknya karakter siswa

Aksi yang dipimpin langsung oleh Ketua PGRI Rote Ndao Alberd W. Dano, S.PD dan sekretaris PGRI Rote Ndao George J. Ndun, S.Pd itu, dilangsungkan hingga sore hari dengan agenda pembakaran Lilin di halaman Sekretariat PGRI Rote Ndao. (Hendrik)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More