Petrus Pelle : Bupati Paling Bertanggungjawab Atas Ambruknya Tembok Penahan  Tilendale

  • Whatsapp

Rote Ndao, BERITA NTT.com- Ketua Komisi C DPRD Rote Ndao Petrus J. Pelle, S.Pd menyebut Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu paling bertanggungjawap atas ambruknya tembok penahan pantai di Lokasi Obyek Wisata Tilendale.

Hal itu disampaikan Petrus Pelle Selasa (23/02/2021) siang, saat memantau lokasi ambruknya tembok penahan yang baru selesai dekerjakan sekitar bulan Desember 2020 lalu.

Dikatakannya, pekerjaan tembok penahan dilokasi Obyek wisata tersebut merupakan Keinginan sepihak dari Bupati Rote Ndao, sehingga tidak melalui perencanaan yang matang

“proyek pembangunan tembok penahan tersebut tidak terdapat dalam RKPD Tahun Anggaran 2020, namun kegiatan itu muncul setelah Bupati Rote Ndao melakukan kunjungan ke lokasi tersebut” ungkap Pelle,

Akibatnya Proyek tersebut dilaksanakan tanpa perencanaan yang baik, ditambahlagi Pelaksanaan proyeknya terkesan asal jadi, sehingga mengakibatkan kualitas bangunan tembok penahan tersebut buruk.

“Jangan coba- coba pemerintah katakan bahwa tembok itu ambruk akibat faktor alam karena ada hujan deras, itu salah besar, faktor utama yang menyebabkan ambruknya tembok penahan itu adalah teknis pelaksanaan yang asal-asalan” kata politisi Partai Demokrat tersebut.

Ditempat yang sama, Wakil Ketua DPRD Rote Ndao, Paulus Henuk yang dikonfirmasi media ini mengatakan, buruknya kualitas Pekerjaan di Kabupaten Rote Ndao secara keseluruhan diakibatkan oleh Buruknya Perencanaan, ditambah lagi Pelaksanaan kegiatan yang asal jadi dan pengawasan yang tidak maksimal.

Paulus mengambil sampel beberapa kegiatan Proyek Tahun Anggaran 2020 yang rusak meski baru selesai dikerjakan, diantaranya Pembangunan Sarana Obyek Wisata Batu Termanu dan Pembangunan Tanggul Penahan Abrasi di Pantai Tilandale, menurutnya dua kegiatan proyek tersebut sudah jelas menunjukkan bahwa ada masalah dengan Perencanaannya.

“Pak wartawan bisa lihat sendiri, bagaimana konstruksi bangunannya, masa bangunan di bibir pantai konstruksinya seperti itu, kan tidak masuk akal membangun tembok dibibir pantai tanpa dasar Fondasi yang kuat” ungkap Paulus Henuk.

Paulus Henuk juga meminta agar pihak kontraktor tidak selalu berlindung dibalik masa Pemelihaaraan sebuah proyek.

“Jangan sampai masa pemeliharaan itu jadi tameng bagi kontraktor untuk kerjakan proyek asal jadi, dengan alasan kalau rusak sebelum selesai masa pemeliharaan maka tinggal diperbaiki, padahal bangunan itu rusak akibat buruknya konstruksi bangunan tersebut” Tambah Henuk

Kuat dugaan Ambruknya Tembok Penahan Abrasi tersebut diakibatkan, penggalian Fondasi yang dangkal, ukuran Lubang Peresapan yang sangat kecil serta kurangnya pemadatan saat dilakukan urukan Sertu.

Pada kesempatan itu Hadir Juga Ketua Komisi A Fecky Boelan, dan Anggota Komisi B, Nur Yusak Ndu’ufi.

Pantauan media ini, Tembok Penahan Abrasi yang dikerjakan diakir Tahun 2020 tersebut mengalami kerusakan berat sepanjang kurang lebih 20 meter, selain ambruk, terdapat di beberapa titik tembok tersebut juga tampak dasa tembok sudah terkikis Air, jika tidak segera ditangani maka besar kemungkinan Tembok yang lain juga akan ambruk

Untuk diketahui Proyek Pembangunan Tanggul Penahan abrasi tersebut bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU TA. 2020) dengan nilai Kontrak Rp. 571.300.000,00 yang dikerjakan oleh CV. Yevalmax Kalvari. (BNC-01)

 

Pos terkait