beritantt.com
Menu

Menguak Fakta Dibalik Terlantarnya Dua Anak SDN Oelasin

0 56

Rote Ndao, BERITA NTT.com – Dugaan Penelantaran Anak yang menimpa Dua siswa SDN Oelasin yakni Fernandus T. Adu dan Yunita Adu yang sempat viral beberapa waktu lalu oleh berbagai media masa menyimpan fakta mengejutkan.

Mulai masalah internal Keluarga sampai pada Himpitan ekonomi menjadi faktor penyebab terjadinya dugaan penelantaran dua anak tersebut,

Berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terus dilakukan oleh Yosep Adu sebagai Kepala Keluarga yang juga berperan sebagai Ibu dari Anak-anaknya setelah beberapa tahun silam Hubungan Rumah tangga mereka hancur berantakan setelah bercerai dengan istrinya.

Yosep Adu yang ditemui di kediamannya, dengan mata berkaca-kaca menceritakan kronologis kejadian yang akhirnya menimpa kedua anaknya yang masih belia.

Menurutnya, kondisi itu bermula saat ia bepergian ke Kabupaten Kupang tepatnya di Fatuleu guna mengais rejeki dengan melakukan pekerjaannya sebagai Penggali Sumur.

Ia berangkat ke Fatuleu Sekitar Bulan November Tahun 2019 lalu, sebelum berangkat Yosep meminta bantuan sanak keluarganya untuk memperhatikan anak-anaknya selama Iya berada di Fatu Leu, ia juga meninggalkan beberapa liter Gula Air, Beras dan Juga Padi buat kedua anaknya yang masih belia tersebut,

Akibat himpitan Ekonomi yang dialaminya, Yosep seakan lupa bahwa kedua anak belia itu masih sangat membutuhkan Perhatian penuh darinya, hingga akhirnya baru ia sadari ketika Pemberitaan mengenai kondisi kedua anaknya tersebut Viral di Media Sosial.

Yosep mengaku, saat mendengar Informasi bahwa ada berita tentang kedua anaknya ditelantarkan, ia langsung bergegas dari tempat kerjanya di Fatu Leu menuju Kupang dengan harapan bisa segera balik ke Rote Ndao untuk kembali berkumpul dengan anak-anaknya, namun sayang keinginannya untuk dapat segera bertemu dengan kedua anaknya justru dihambat oleh Aparat Desa Oelasin.

Namun saat itu Kepala Dusun Okeneka dan Kades Oelasin meneleponnya agar jangan kembali ke Rote sebab jika ia kembali ia lama ditangkap oleh pihak berwajib

“Waktu saya dengar berita pertama kali saya sudah langsung turun ke Kupang, tetapi sampai di pelabuhan Tenau saya ditelp oleh Kepada Dusun dan Kepala Desa yang mengatakan bahwa kamu jangan pulang dulu, nanti polisi tangkap kamu” ungkap Yosep Menirukan apa yang disampaikan oleh Kades Oelasin dan Kadus Okeneka.

Mendengar Informasi dari Kedua Pejabat Desa Oelasin tersebut, Yosep akhirnya mengurungkan niatnya untuk segera kembali bertemu kedua anaknya, ia terpaksa tertahan di Kupang selama Dua hari, sebelum akhirnya ia putuskan untuk tetap kembali ke Rote meski harus berhadapan dengan resiko yang harus ia terima seperti yang diinformasikan oleh Kades Oelasin Maupun Kadus Okeneka.

Tak sampai disitu, meski kondisi ekonomi yang serba kekurangan Yosep Adu, Ayah dari dua anak tersebut justru mendapatkan Perlakuan yang tidak adil dari aparat Desa setempat.

Fakta lain yang terkuak dalam investigasi media ini ternyata sebelum melakukan pekerjaan di Fatuleu, Yosep sempat menyelesaikan pekerjaan Galian Sumur di Dusun Okeneka dan juga pekerjaan pagar kebun dengan panjang kurang lebih 600 meter, pekerjaan tersebut bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2019, namun sayangnya setelah selesai dikerjakan Yosep tak langsung dibayar oleh Kepala Desa. Bahkan sampai beberapa hari setelah ia kembali dari Kupang HOK miliknya untuk dua pekerjaan tersebut tak diberikan oleh Pengelola Kegiatan, sampai akhirnya suatu waktu Yosep Mengaku didatangi oleh Gerson Adu dan menyampaikan bahwa HOK milik-nya sudah dibayar oleh pihak Desa namun uang tersebut masih Dipakai oleh Gerson, Gerson berjanji ia akan mengembalikan Uang HOK milik Yosep saat Yosep mendapatkan Bantuan RLH agar bisa dipakai untuk menambah dana swadaya yang dibebankan kepada penerima RLH

Bahkan dalam pekerjaan Pagar Kebun di Dusun Okeneka, Yosep Mengaku anaknya Fernandus T. Adu yang berumur 13 tahun juga ikut dipekerjakan, namun ia hanya menerima bayaran sebesar 100.000 meski telah melaksanakan pekerjaan selama Tiga hari.

Yosep juga menyesalkan adanya informasi bahwa dirinya pernah diberikan bantuan Rumah Layak Huni namun ditolak oleh dirinya, ia mengaku sangat kecewa dengan pejabat baik di kecamatan RBD maupun di Desa Oelasin yang menyampaikan informasi tidak benar bahwa ia menolak bantuan Rumah Layak Huni Dari Pemerintah.

” Jadi begini Pak Wartawan, masuk akal atau tidak saya ini orang miskin lalu saya tolak Bantuan Rumah Layak Huni dari Pemerintah, pak wartawan lihat sendiri kondisi rumah saya ini, apakah rumah ini sudah sangat layak sehingga bantuan itu saya tolak? aneh saja kenapa mereka bisa sampaikan bahwa saya yang tolak Bantuan RLH” Tambah Yosep

Yosep menambahkan bahwa Selama Hidup di Desa tersebut, apalagi sejak bergulirnya Dana Desa Pada Masa Kepemimpinan Presiden Jokowi Periode pertama, dirinya tidak pernah diberikan bantuan oleh pemerintah Desa Oelasin.

Kepala Desa Oelasin Junus Fanggi Saat dikonfirmasi media ini melalui telepon selulernya mengaku HOK untuk kegiatan yang ada di Dusun Okeneka sudah diserahkan ke Kepala Dusunnya, untuk kemudian dibagikan kepada para pekerja didusun tersebut.

Namun saat ditanya total HOK yang diserahkan kepada Kadus Okeneka, Kepala Desa Mengaku tidak mengetahui persis jumlah Uang yang diserahkan, namun yang dia ingat besaran HOK untuk penggalian Sumur kurang lebih sebesar Rp. 9.000.000 sedangkan untuk Pengerjaan pagar kebun kades mengaku Lupa angkanya.

Sementara itu, Kadus Okeneka, Gerson Adu saat dikonfirmasi media ini membenarkan bahwa dirinya telah menerima Biaya HOK dari Pihak Desa untuk dibayarkan kepada Para Pekerja di Dusunnya,

Saat pembayaran HOK, Yosep Adu tidak berada ditempat sehingga uang tersebut ia tahan,

Gerson juga membenarkan bahwa iya sempat memberikan uang sebesar Rp.100.000 kepada Fernandus T. Adu untuk pembayaran Upah Kerja Pagar Kebun, namun menurut Gerson Upah untuk Fernandus T. Adu sebesar Rp. 300.000 begtu juga dengan ayahnya Yosep Adu.

Saat dikonfirmasi bahwa saat ini Yosep Adu sudah kembali apakah Upah kerjanya sudah diberikan, Gerson mengaku dirinya sudah menyerahkan Upah HOK milik Yosep Adu pada Sabtu Pekan lalu. Namun ia tidak merincikan besaran Upah HOK yang diserahkan kepada Yosep Adu.

Fakta lain yang juga berkaitan dengan persoalan ini juga menimpah Guru Kelas VI SDN Oelasin Jek Manuain,

Informasi yang dihimpun media ini, akibat niat baiknya mengunggah Kondisi kedua anak ini ke medsos dengan harapan mendapatkan simpatik dari warga net agar dapat membantu mengurangi beban yang dialami kedua anak ini, justru berakibat fatal, pemerintah Daerah setempat seakan tidak menerima viralnya pemberitaan dari beberapa media lokal di daerah tersebut.

Menurut Informasi yang dihimpun media ini Jek Manuain dipanggil oleh Dinas dan dilakukan BAP oleh Pihak Dinas PKO Kabupaten Rote Ndao.

Wartawan media ini berupaya untuk menggali kebenaran informasi tersebut ke Kepala Dinas PKO Kabupaten Rote Ndao, namun sang kadis mengarahkan wartawan untuk mengkonfirmasi persoalan itu ke Bagian Humas Pemda Rote Ndao,

Wartawan juga berupaya untuk mengkonfirmasi persoalan itu ke Bagian Humas namun Kabag Umum, Humas dan Protokoler Kabupaten Rote Ndao Handry Bessie meminta agar wartawan melayangkan daftar pertanyaan kepada Pihak Humas agar Humas berkoordinasi dengan dinas PKO untuk menjawab pertanyaan dari wartawan media ini.

“beliau mau sesuai aturan kaka jadi kaka bersurat ke ketong saja jadi pernyataan yang keluar adalah pernyataan beliau melalui bagian humas” kata Kabag Umum, Humas dan Protokoler Setda Rote Ndao melalui WhatsApp (Hendrik)

Komentar Facebook

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More