Bantuan Rumah Layak Huni Di Desa Papella Tidak Tepat Sasaran

Rote Ndao, BERITA NTT.com – Bantuan Rumah Layak Huni di Desa Papela Kecamatan Rote Ndao yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2019 dinilai tidak tepat Sasaran

Hal ini disampaikan beberapa Warga yang ditemui BERITA NTT.com di kediamannya beberapa waktu lalu,

Muhamat Hasan, RT/RE 06/ 03 Dusun Tasisu Desa Papella yang ditemui media ini mengaku, sebelumnya iya telah didata untuk mendapatkan Bantuan Rumah Layak Huni yang bersumber dari dana Desa namun saat pelaksanaan namanya tidak ada dalam Daftar 10 orang penerima bantuan tersebut

Ia tidak tahu apa masalahnya sehingga ia tidak mendapatkan bantuan Rumah Layak Huni itu, sedangkan dari sisi kelayakan ia sangat layak menerima bantuan perumahan tersebut.

“Saya juga tidak tau kenapa tidak dapat, tapi kalau mau dibandingkan dengan orang yang saat ini dapat bantuan Rumah, mereka itu sesungguhnya tidak layak karena mereka sudah punya tumah yang bagus” kata Muhamat yang sehari-hari bekerja sebagai Nelayan itu

Di tempat terpisah, Rosita Sulaiman juga mengatakan bahwa pembagian Rumah Layak Huni di Desa Papella terkesan diskriminatif, bagaimana Tidak daftar penerima Rumah bantuan tersebut adalah Kepala Desa dan Kroni-kroninya. Sementara masyarakat yang harusnya layak menerima justru diabaikan oleh Kepala Desa

Hal senada Juga dibenarkan oleh Husni yang mengatakan bahwa, Kepala Desa dan Anaknya termasuk dalam daftar nama penerima Bantuan Rumah Layak Huni yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2019.

Selain itu, Bendahara Desa yang juga merupakan Guru Kontrak Pusat di Salah sekolah Madrasah di Desa Papella juga mendapatkan bantuan Rumah Layak Huni, sedangkan mereka sudah memiliki rumah yang bagus.

” Tindakan Kepala Desa Papella memang sudah sangat meresahkan warga, dia terkesan sewenang- wenang dalam mengeluarkan kebijakan di Desa, yang lebih banyak menguntungkan dirinya dan kroni-kroninya sementara masyarakat Jelata justru dikorbankan, salah satu contoh adalah Rumah Layak Huni, masah Kepala Desa, Anak Kandungnya, Mertua dari saudaranya, dan juga aparat Desa yang harusnya tidak layak justru yang dapat sementara masyarakat yang harusnya layak untuk dapat justru tidak dikasih” ungkap Husni

Lanjut Husni, dalam pbagian Rumah Layak Huni di Desa Papella, Kepala Desa dan Kroninya menggunakan sistim Jatah, sehingga siapapun yang merupakan orang dekatnya Kepala Desa dan Kroninya maka merekalah yang mendapatkan Bantuan sedangkan warga lain yang tidak dekat dengan kepala Desa maka mereka tidak akan mungkin mendapatkan Bantuan tersebut.

Sementara itu Kepala Desa Papela Mardia Laduma yang ditemui media ini dirumahnya mengatakan informasih tersebut tidak benar,

Sebelum pembagian rumah layak Huni tersebut, dirinya telah memanggil para kepala Dusun untuk memerintahkan kepada mereka agar mendata masyarakat Dusun yang layak dibantu, sesuai dengan ketentuan Juknis yang ada.

Setelah didata oleh Kepala Dusun, pihaknya lalu melakukan ferifikasi berdasarkan ketentuan peraturan yang ada, sehingga ada warga yang memang layak untuk mendapatkan bantuan namun tidak memenuhi kriteria sebagai penerima akibat tidak memiliki beberapa Dokumen pendukung seperti bukti kepemilikan tanah dan lain-lain

Disinggung soal dirinya yang disebut juga mendapatkan bantuan Rumah Layak Huni, Mardiq tidak mengelak, ia yang kala itu didampingi suaminya membenarkan terkait informasi tersebut.

“Memang benar, saya juga dapat bantuan Rumah Layak Huni dari Desa, kata Mardiah yang dibenarkan juga oleh suaminya Mas Tono

Mardia mengaku, dirinya bersama suami dan anak-anaknya selama ini tinggal di Rumah Kontrakan, dan belum memiliki Rumah sama sekali, sehingga saat ada bantuan perumahan tersebut ia juga mengambilnya satu Unit.

Saat ditanya soal bantuan Rumah yang juga diterima oleh anaknya Mardia membantahnya, ia mengaku rumah anaknya yang saat ini sementara dibangun adalah hasil dari Pinjaman uang di Bank,

” Itu tidak benar, saya bangun rumah anak saya dari uang hasil pinjaman di Bank sebesar 100 juta” bantah Mardia

Pantauan media ini di Desa Papela Ada warga yang Rumahnya sangat memprihatinkan tetapi tidak mendapatkan bantuan rumah layak huni, sementara orang yang sudah memiliki rumah yang layak justru diberikan bantuan oleh pemerintah Desa (Hen)