Tokoh Agama Dan Tokoh Adat Nusak Thie Sepakat Tegakan Larangan Perkawinan Sesama Suku

Rote Ndao, BERITA NTT.com –  Tokoh Adat dari 26 suku di Nusak Thie dan tokoh agama dari Agama Kristen maupun Islam bersepakat untuk menegakkan kembali Adat Istiadat terkait dengan larangan perkawinan sesama suku di Nusak Thie.

Kesepakatan itu tertuang dalam surat Pernyataan bersama antara tokoh Agama, Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat yang ditandatangani oleh Perwakilan sebanyak lima orang yakni dari tokoh Agama diwakili oleh Ketua KMK Rote Barat daya, Pdt. Tonias Nalle, dan dari Tokoh Adat diwakili oleh Masing-masing, Gabriel Mooy Maneleo Mooyumbuk, Melkianus Kaynabu Maneleo Henulae, Salmun Bessie, Tyanleo Mandato, dan Zakarias Nalle Maneleo Kekadulu.

Sebelum tercapainya kesepakatan tersebut, para maneleo dan para pendeta se- Nusak Thie dikumpulkan oleh Bupati Rote Ndao Drs. Leonard Haning, MM yang juga adalah Maneleo Inahuk di Kantor Camat Rote Barat Daya Sabtu (30/9) pekan lalu guna menyamakan persepsi mengenai laragan perkawinan sesame Suku di Nusak thie tersebut.

Pada Kesempatan itu, Bupati Haning mengatakan bahwa, perkawinan sesame suku di Nusak Thie harus segera dihentikan, sehingga tidak berdampak pada kehidupan budaya masyarakat adat Nusak Thie.

Menurut Bupati, Harus diakui bahwa selama ini sudah banyak terjadi pelanggaran adat oleh sebagian Masyarakat nusak Thie sendiri, dimana telah terjadi perkawinan antar sesama suku di Nusak Thie yang harusnya itu tidak boleh terjadi, namun sejauh ini seolah dibiarkan saja.

“saya pikir tidak ada Pilihan lain, Greja dan Adat harus bersepakat untuk menghentikan perkawinan antara sesame suku yang terjadi di Nusak Thie, sehingga generasi-generasi yang akan datang tidak lagi terjebak dalam situasi yang sama” ungkap Bupati Haning,

Sementara itu, Maneleo Mooyumbuk, Gabriel Mooy pada kesempatan itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Rote Ndao yang juga adalah Maneleo Inahuk yang telah memberikan perhatian serius soal perkawinan sedarah yang terjadi di Nusak Thie selama ini.

Gabriel Mooy mengaku, selama ini dirinya sudah sering membatalkan perkawinan sesame suku yang terjadi didalam keluarganya, namun ia mengakui bahwa hal itu masih sering terjadi pada wilayah –wilayah lain di Nusak thie.

Untuk itu, ia berharap dengan adanya pertemuan yang difasilitasi oleh maneleo Inahuk tersebut, seluruh maneleo di nsak thie dapat menjalankan perannya masing –masing untuk menyampaikan kembali ke anak-anak leonya masing masing terkait dengan larangan perkawinan ini sehingga tidak lagi terjadi perkawinan sesame sukuh di Nusak Thie.

Meskipun sempat mendapatkan tantangan dari pihak gereja namun akirnya para maneleo bersama tokoh Agama menyepakati beberapa hal untuk menjadi perhatian bersama dalam memfasilitasi kegiatan perkawinan di Nusak Thie. Kesepaktan tersebut antara lain,

Satu, adat istiadat tentang larangan perkawinan sesame suku (Feto Nak dan Nisak) yang berlaku secara adat dalam peradaban kehidupan masyarakat di Kecamatan Rote Barat Daya (esk nusak Thie) tetap ditegakan dan dipertahankan

Dua, bahwa gereja konsisten dan menghargai adat istiadat sebagai bagian tak terpisahkan dari pelayanan gereja dalam terang Injil

Tiga, untuk mencega terjadinya perkawinan sesame suku (Feto Nak dan Nisak) baik didalam wilayah kecamatan Rote Barat Daya (esk nusak Thie)  maupun diluar wilayah kecamatan Rote Barat Daya maka tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat/maneleo wajib melakukan edukasi kepada anak leo dan orag tua wajib melakukan edukasi terhadap anak-anaknya terkait degan adat istiadat orang Thie ( yang merupakan keturunan lurus dari Thie Mau) yang berlaku dalam peradaban kehidupan masyarakat diwilayah kecamatan Rote Barat Daya (esk nusak Thie)

Empat, untuk membuktikan bahwa kedua pasangan yang akan melakukan perkawinan bukan Feto Nak  melainkan Musu Nok  maka perlua adanya surat pernyataan dari masing- masing pasangan calon pengantin dan maneleio kedua pasangan  (BNC/01)

 

share on: