Kuota Penjualan Sapi Untuk Rote Ndao Tahun 2016  3.500 Ekor

Rote Ndao, BERITA NTT.com –  Kuota Penjualan sapi ke luar Daerah untuk Kabupaten Rote Ndao pada Tahun 2016 sebanyak 3.500 Ekor.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Peternakan Erens Sinlaeloe, S.Pt saat dikonfirmasi media ini di ruang kerjanya belum lama ini.

Dikatakannya, berdasarkan SK Gubernur NTT,  Kuota penjualan ternak di Kabupaten Rote Ndao untuk Tahun 2016 sebanyak 4. 300 ekor dengan rincian ternak Sapi sebanyak 3.500 ekor, Kerbau sebanyak 600 ekor dan Kuda sebanyak 200 ekor.

Meskipun SK Gubernur tersebut berlaku sejak Januari Tahun 2016 namun pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Bupati Rote Ndao Drs. Leonard Haning, MM mengeluarkan kebijakan agar Ternak Sapi baru bisa diantarpulaukan setelah tanggal 15 Mei setiap Tahunnya.

Menurut Erens kebijakan mengatur masalah pengantarpulauan ternak tersebut disebapkan atas beberapa pertimbangan diantaranya terkait dengan masalah kualitas daging sapi dimana jika sapi –sapi tersebut dijual keluar antara bulan januari – Maret maka dalam rentangan waktu itu Sapi Masih kurus dan kandungan air dalam daging sapi masih tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap kualitas daging sapi Rote Ndao.

untuk itu bagi seluruh pengusaha ternak yang saat ini meengumpulkan ternak di tempat usaha mereka masing-masing diharapkan agar dapat mematuhi aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sehingga dapat menjaga kualitas Daging Sapi Rote Ndao agar tedak berpengaruh terhadap turunya harga Sapi di rote Ndao.

Masih menurut Erens pemerintah Kabupaten Rote Ndao sangat serius dalam meningkatkan populasi Ternak Sapi di Kabupaten rote Ndao, hal itu diikuti dengan kebijakan anggaran Pemberdayaan bagi masyarakat untuk beternak sapi.

Namun bantuan pemberdayaan bagi masyarakat kususnya peternak sapi saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana jika pada tahun-tahun sebelumnya pemerintah dalam hal ini Dinas Peternakan langsung melakukan Pengadaan Bibit sapi untuk dibagikan kepada para penerima namun selama dua Tahun terakir sitim yang digunakan adalah dengan membentuk kelompok dan dana pemberdayaan tersebut lansung ditransfer ke rekning kelompok masing-masing.

Hal itu dilakukan pemerintah agar masyarakat yang masuk dalam kelompok peternak tersebut bisa langsung membeli bibit sapi sesui dengan kondisi alam yang ada di daerah mereka masing-masing agar dapat meminimalisir kematian Sapi bantuan Pemerintah seperti yang terjadi pada Tahun-tahun sebelumnya.

“kalau dulu kita yang lakukan pengadaan bibit Sapi baru dibagian ke para penerima, namun saat ini kita rubah yakni uangnya kita transfer langsung ke Rekning Kelompok baru mereka yang membelinya, supaya kalo memang didaerah mereka cocoknya sapi angol yah beli Sapi Angol dan jika di daerah yang lain cocok untuk Sapi Bali yah beli Sapi Bali,  kalu dulu kita yang beli makanya banyak sapi bantuan yang mati karena tidak cocok dengan karakteristik wilayah yang ada, Uangkap erens Sinlae.  (Hen)

share on: