Pengecer Hebron Utang pupuk ke Petani sebanyak 691 Karung

Rote Ndao, BERITA NTT.com – Ulah para pengecer yang tidak memiliki modal dan hanya mengandalkan   uang dari petani untuk menebus harga pupuk di Distributor sangat meresahkan para Petani di Kabupaten Rote Ndao.

Bagaimana tidak sebagian besar petani merasa sangat dirugikan akibat aksi para pengecer tersebut, pupuk yang sudah mereka tebus sejak Bulan November 2015 lalu hingga kini belum mereka dapatkan, sementara tanaman padi mereka sudah berumur kurang lebih dua bulan.

Martinus Tungga salah seorang Petani yang diminta oleh para petani dari tuju kelompok tani di Desa Temas Rabu siang kemarin mengadukan hal itu ke Komisi A. DPRD Kabupaten Rote Ndao, ia meminta agar Anggota DPRD dapat memfasilitasi penyelesaian masalah tersebut sehingga masyarakat tidak berlarut dalam kecemasan.

Berdasarkan bukti Kwitansi asli yang ditunjukkan oleh Marten Tungga kepada KURSOR terbukti pengecer Hebron menjual Pupuk subsidi melebihi harga HET dengan alasan kelebihan harga tersebut diperuntukkan untuk membayar Buruh dan kendaraan pengangkut pupuk.

Martinus Mengaku ketujuh kelompok tani tersebut sudah menyetor uang pupuk ke Onisuwonto slaku Pengecer untuk wilayah Kecamatan Rote Barat Laut sejak tanggal 09-14 november tahun 2015 namun hingga kini baru pupuk Sp36 yang diantar oleh Oni Suwongto.

“pupuk Sp36 baru diatar kemarin dulu, dan kami terpaksa tidak bisa pake lagi pipik itu karena pupuk itu mestinya disiram sebelum penanaman, nah sekarang padi sudah umur dua bulan mau siram juga tidak ada Gunanya, Uangkap Martinus.

Sedangkan pupuk Urea sebanyak 681 Karung dengan total biaya sebesar Rp. 61.290.000 ditambah uang buruh dan uang oto sebesar Rp. 3.405. 0000 hingga kini masyarakat belum ada yang dapat.

Total uang yang dikeluarkan oleh tujuh klompok untuk menebus pupuk di Oni Suwongto sebesar  Rp.159. 680.000 total uang tersebut ditambahkan denga biaya buruh dan transportasi yang diminta oleh Pengecer dengan rincian biaya buruh dan transportasi untuk pupuk Urea per karung dipatok Rp. 5. 000. Sedangkan untuk Pupuk Sp36 dan NPK biaya buruh dan transportasi dipatok seharga Rp. 10.000 per karung.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutana  Stefanus Saek saat ditemui di Gedung DPRD Kabuaten Rote Ndao mengatakan berdasarkan aturan pengecer tidak boleh mengumpul uang dari  para petani sebelum pupuk tersebut ada di gudang pengecer,

“menurut Aturan pengecer yang menebus pupuk tersebut di Distributor, setelah pupuk tersebut ada barulah pengecer menginformasikan kepada para petani melalui Ketua Kelompok Tani untuk menebus pupuk tersebut di Pengecer bukan malah sebaliknya pengecer menggunakan uang petani untuk menebus pupuk di Distributor, Tambah Saek

Untuk itu Stef saek menghimbau kepada seluruh kelompok tani di Kabupaten Rote Ndao agar tidak memberikan uang tebusan pupuk ke pengecer jika belum ada pupuk yang tersedia di Gudang pengecer.

Masih menurut saek, pupuk subsidi itu tidak boleh dijual diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan dan tidak ada aturan yang mengatakan bahwa biaya buruh dan transportasi itu ditanggung oleh petani untuk itu para petani diminta untuk segera melaporkan pengecer yang meminta biaya buruh dan transportasi tersebut ke Dinas agar bisa segera ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku

Selain itu Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Rote Ndao Alfret Saudia saat dikonfirmasi di kantor DPRD setempat mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan banyak keluhan dari masyarakat mengenai persoalan pupuk di daerah ini, untuk itu Alfret meminta agar pemerintah melalui Dinas Pertanian agar segera menyelesaikan masalah pupuk tersebut sehingga jangan terlalu meresahkan warga.

Alfret bahkan mengancam akan memimpin para petani di seluruh Kabupaten Rote Ndao untuk melakukan aksi di para pengecer yang nakal jika persoalan ini tidak segera diselesaikan. (Hen)

share on: